VARIASI BAHASA DAN DIALEK DI INDONESIA

MAKALAH
DI SUSUN UNTUK MENUNAIKAN TUGAS MID SEMESTER GASAL
MATA KULIAH DASAR-DASAR ILMU BUDAYA

OLEH : NURUL SETYAWAN
NIM: 11/318557/SA/16079
JURUSAN SASTRA ASIA BARAT
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil`alamin, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta`ala , yang telah memberikan rahmat-Nya dan berbagai kenikmatan diantaranya nikmat sehat dan Kesempatan sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas akhir mid semesrer gasal mata kuliah dasar-dasar ilmu budaya.
Makalah yang berjudul “VARIASI BAHASA DAN DIALEK DI INDONESIA” ini akan memaparkan secara ringkas dan sederhana mengenai variasi-variasi ragam bahasa dan dialek yang di tuturkan oleh masyarakat indonesia pada umumnya.
Indonesia merupakan negara yang sifatnya majemuk, salah satunya ditandai oleh keragaman bahasa dan dialek yang telah kita kenal, dan dalam satu ragam bahasa pun masih terdapat bermacam-macam dialek yang dapat dibedakan. Bahasa yang di tuturkan oleh masyarakat Indonesia sangat beragam. Bahasa yang digunakan dalam aktifitas sehari-hari bisa bermacam-macam jenis. Bahasa di sekolah berbeda dengan bahasa di terminal, bahasa berpidato berbeda dengan bahasa ketika ngobrol dengan teman-teman, dan sebagainya. Begitu pula dengan dialek, sangat beragam dan bervariasi dikarenakan dalam satu ragam bahasa terdapat berbagai dialek yang dapat dibedakan.
Akhirnya, penulis sampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan serta membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis sadari dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan agar makalah ini menjadi lebih baik.

Yogyakarta, 8 Novmber2011

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………………ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………………………………………………………………….1
B. Perumusan Masalah………………………………………………………………………………………………..1
C. Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………………………………….1

BAB II. PEMBAHASAN
A. Bahasa dan Dialek Yang Digunakan Masyarakat………………………………………………………….2
B. Variasi Bahasa Berdasarkan Pemakaiannya………………………………………………………………..4
C. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Keformalannya……………………………………………………6
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………8
B. Saran…………………………………………………………………………………………………………………….8

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman bahasa dan budaya. Begitu banyak ragam bahasa yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, dan dalam suatu ragam bahasa pun masih terdapat bermacam-macam dialek yang dapt di bedakan.
Ragam variasi bahasa berdasarkan penuturnya dapat dibedakan secara perorangan maupun perkelompok yang jumlahnya relatif berada pada suatu wilayah, atau area tertentu. Variasu bahasa juga dapat didasarkan bidang pmakaiannya menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Selain itu kondisi dan situasi atu tingkat keformalan dalam menuturkan sebuah bahasa juga akan mempengaruhi ragam bahasa yang akan dituturkan oleh sang penutur bahasa.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarjan latar belakang diatas, maka masalah yang dapt di rumuskan adalah:
1. Bahasa dan dialek apa yang digunakan oleh masyarakat?
2. Bagaaimana ragam variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaianya?
3. Bagaimana ragam variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya?

C. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas akademik mid semester gasal mata kuliah dasar-dasar ilmu budaya dan juga agar para pembaca bertambah wawasannya mengenai keragaman variasi bahasa dan dialek yang digunakan oleh masyarakat Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. BAHASA DAN DIALEK YANG DIGUNAKAN OLEH MASYARAKAT

Variasi bahasa pertama yang dapat diidentifikasi berdasarkan penuturmya adalah variasi bahasa yang disebut ideolek, yaitu variasi bahasa yang bersifat perseorangn. Menurut konsep ideolek, setiap oramg mempunyai variasi bahasa atau idoleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkanaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, dan susunan kalimat. Akan tetapi, yang paling dominan adalah warna suara itu sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya kita dapat mengenalinya.
Mengenali ideolek seorang dari bicaranya memang lebih mudah daripada melalui karya tulisnya. Akan tetapikalaunkita sering membaca karya Hamka , Alisjahbana, atau shakespeare, maka pada suatu kelak bila kita nenemui selembar karya mereka, meskipun tidak dicantumkan nama mereka,kita dapat mengenali lembarab itu karya siapa. Jika ada 1000 orang penutur, misalnya, maka akan ada 1000 idiolek dengan cirinya masing-masing yang meskipun sangat kecil atau sedikit cirinya, tetapi masih tetap menunjukkan idioleknya masing-masing. Dua orang kembar pun, warna suara yang menandai idioleknya masih dapat dibedakan.
Variasi bahasa kedua berdasarkan pemuturnya adalah yang disebut dialek, yaitu variasi
bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Dialek ini didasarkan pada wilayah atau area tempat tinggal penutur, maka dialek ini lazim disebut dialek area,dialek regional, atau dialek geografi. Para penutur dalam suatu dialek , meskipun mereka mempunyai idioleknya masing-masing, memiliki kesamaan ciri yang menandai bahwa mereka berada pada suatu dialek yang berbeda dengan kelompok penutur lain. Misalnya, bahasa Jawa dialek banyumas memiliki ciri tersindiri yang berbeda dengan ciri yang dimiliki bahasa Jawa dialek pekalongan, dialek semarang , dialek Surabaya, atau bahkan bahasa jawa dialek lainnya. Mengapa? Karena dialek-dialek tersebut masih termasuk bahasa yang sanma, yaitu bahasa Jawa. Memang kesaling-mengertian antara anggota dari satu dialek dengan anggota dialek lain bersifat relatif: bisa besar, bisa kecil, atau juga sangat kecil. Lalu jika kesaling –mkengertian itu tidak ada sama sekali, maka berarti kedua penutur dari kedua dialek yang berbeda itu bukanlah dari sebuah bahasa yang sama, melainkan dari dua bahasa yang berbeda. Dalam kasus bahasa jawa, dialek Banten dan bahasa Jawa dialek Cirebon, sebenarnya kedua bahasa tersebut sudah berdiri sendiri-sendiri, sebagai bahasa yang bukan lagi bahasa Jawa. Akan tetapi, karena, secara historis keduanya adalah berasal dari bahasa jawa, maka kedunya juga dapat dianggap sebagai dialek-dialek bahasa Jawa.
Penggunaan istilah dialek dan bahasa dalam masyarakat umum memang seringkali bersifat ambigu. Secara linguistik, jika masyarakat tutur masih saling mengerti, maka alat komunikasinya adalah dua dialek dari bahasa yang sama. Namun, secara politis, meskipun dua masyarakat tutur bisa saling mengerti karen kedua alat komunikasi verbalnya mempunyai kesamaan sistem dan subsistem, tetepi keduanya dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Contohnya, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang secara linguistik berasal dari runpun yang sama, tetapi secara politis dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda.
Variasi ketiga berdasarkan penutur adalah yang disebut kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun 30-an, 50-an, dan variasi yang digunakan pada masa kini yang tentunya berbeda, baik dari segi lafal, ejaan, morfologi, maupun sintaksis. Yang paling tmpak ini mudah sekali berubah akibat perubahan sosial budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kalau kita membaca buku yang diterbitkan dari tiga zaman yang berbeda , kita dapat melihat nperbedaan itu.
Variasi bahasa yang keempat berdasarkan penuturnya adalah apa yang disebut sosiotek atau dialek sosial, yakni status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik, biasanya variasu inilah yang paling banyak dibicarakan dan paling banyak menyita waktu untuk membicarakannya, karena variasi ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti, usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan , dan keadaan sosial ekonomi. Berdasarkan usia, kita bisa melihat perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh kanak-kanak, para remaja, orang dewasa, dan orang-orang yang tergolong lansia(lanjut usia).
Bahasa dan dialek yang digunakan di kantor, pasar, terminal atau tempat berkumpulnya suatu komunitas sangat beraneka ragam. Hal tersebut karena sangat tergantung pada letak geografis, asal-usul atau etnis, dan bahkan pengaruh unsur budaya asing.

B. VARIASI BAHASA BERDASARKAN BIDANG PEMAKAIANNYA

Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaiannya menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Variasi bahasa berdasrkan bidang kegiatan ini yang paling tampak cirinya adalah dalam bidang kosakata. Setiap bidang kegiatan ini biasanya mempunyai sejumlah kosakata khusus atau tertentu yang tidak digunakan dalam bidang lain. Namun demikian, variasi berdasarkan bidang kegiatan ini tampak pula dalam tataran morfologi dan sintaksis.

a. Ragam Sastra

Variasi bahasa atau ragam bahas sastra biasanya menekankan penggunaan bahasa dari segi estetis sehingga dipilihlah kosakata yang secara estetis memiliki ciri eufoni serta daya ungkap yang tepat. Dalam bahasaumum, seseorang mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan polos, namun dalam ragam bahasa sastra maka kata-kata yang diungkapkan harus mengandung nilai estetis. Misalnya, dalam bahasa umum kita mengatakan : “Saya sudah tua” , namun dalam ragam bahasa sastra maka ungkapan tersebut diungkapkan dengan kata-kata yang mengandung nilai keindahan misalnya bahasa sastra Ali Hasjmi, seorang penyair Indonesia, mengungkapkan dalam bentul puisi : “ Pagiku hilang sudah melayang, Hari mudaku pergi. Sekarang petang datang membayang, Batang usiaku sudah tinggi”.

b. Ragam Jurnalistik

Ragam bahasa jurnalistik mempunyai ciri tertentu, yaitu kosakata yang dipakai bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komumikatif, karena jurnalis harua menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasan ruang (dalam media cetak) dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik ini dikenal dengan sering ditanggalkannya awalan me- atau awalan ber- yang dalam ragam bahasa baku harus digunakan. Misalnya kalimat “ Gubernur tinjau daerah banjir” (dalam bahasa baku berbunyi “Gubernur meninjau daerah banjir)

c. Ragam Militer

Ragam bahasa militer bersifat ringkas, lugas dan tegas, yaitu sesuai dengan tugas dan kehidupan kemiliteran yang penuh dengan disiplin dan instruksi. Ragam militer di Indonesia dikenal dengan cirinya yang memerlukan keringkasan dan ketegasan yang dipenuhi dengan berbagai ringkasan dan akronim. Bagi orang awam atau orang di luar kalangan militer, singkatan dan akronim tersebut memang sulit dipahami, namun bagi kalangan militer tidak jadi masalah.

d. Ragam Ilmiah

Ragam bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri yang lugas, jelas, dan bebas dari keambiguan, serta egala metafora dan idiom. Bebas dari keambiguan karena bahasa ilmiah harus memberikan informasi keilmuan, tanpa keraguan makna, dan terbebas dari kemungkinan tafsiran makna yang berbeda. Oleh karena itu ragam bahasa ilmiah tidak menggunakan metafora dan idiom.

C. VARIASI BAHASA BERDASARKAN TINGKAT KEFORMALANNYA

Berdasarkan keformalannya, Martin Joss (1967) dalam bukunya The Five Clock memebagi variasi bahasa menjadi lima macam gaya, yaitu gaya atau ragan beku (frozen), gaya atau ragam resmi (formal), gaya atau ragam usaha (konsultatif), gaya atau ragam santai (casual) dan gaya atau ragam akrab (intimate).

a. Ragam Beku (Frozen)

Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya , dalam upacara kenegaraan, upacara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akta notaris, dan surat keputusan. Disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah. Dalam bentuk tertulis ragam beku ini dapat kita dapati dalam dokumen-dokumen penting, seperti undang-undang dasar, akta notaris, naskah-naskah perjanjian jual-beli, atau sewa-menyewa. Kalimat-Kalimat yana dimulai dengan kata bahwa, maka, hatta, dan sesungguhnya merupakan contoh dari ragam bahasa beku. Susunan kalimat dalam ragam beku biasanya panjang-panjang, bersifat kaku, dan kata-katanya lengkap. Dengan demikian, para penutur dan pendengar ragam beku dituntut keseriusan dan perhatian penuh.

b. Ragam Resmi (Formal)

Ragam resmi atau formal adalah variasi bahas yangdigunakan dalam pidato, rapat dinas, surat -menyurat dinas, ceramah keagamaan, atau buku-buku pelajaran. Pola dan kaidah ragam resmi sudah ditetapkan. Ragam bahasa resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam beku yang hanya digunakan dalam situasi resmi.

c. Ragam Usaha (Konsultatif)

Ragam usaha atau konsultatif adalah variasi bahas yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional. Wujud ragam usaha ini berada di antara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.

d. Ragam Santai (Kasual)

Ragam santai atau kasual adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang, dengan keluarga atau teman karib pada situasi yang santai, misalnya saat istirahat, berolahraga, berekreasi. Ragam santai ini banyak menggunakan bentuk alegro, yaitu bentuk kata kata atau ujaran yang dipendekkan. Kosakatanya banyak dipenuhi unsur leksikaldialek dan unsur bahas daerah. Demikian juga dengan struktur morfologi dan sintaksisnya. Seringkali struktur morfologi dan sintaksis yang normatif tidak digunakan

e. Ragam Akrab (Intimate)

Ragam akrab adalah variasi bahasa yang digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antaranggota keluarga atau antarteman yang sudah karib. Ragam ini di tandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan artikulturasi yang seringkali tidak jelas. Hal ini terjadi karena d antara partisipan sudah ada saling pengertian dan memilikimnpengetahuan yang sama.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang sudah dipaparkan, maka dapat kita simpulkan bahwa penggunaan variasi bahasa dan dialek merupakan bagian dari kebudayaan di Indonesia, dan fungsi bahasa adalah sebagai alat penyampaian pesan(berkomunikasi) . Terdapat berbagai variasi bahasa dan dialek yang dapat dibedakan berdasarkan penuturnya yang bersifat individu maupun kelompok. Variasi bahasa juga dapat di klasifikasikan berdasarkan bidang pemakaiannya dan berdasarkan tingkat keformalannya.

B. SARAN
Banyak faktor atau variabel yang menentukan ragam bahasa yang bisa kita gunakan. Tergantung pada saat situasi apa dan dalam kegunaan apa kita menuturkan bahasa dan dialek . Maka dari itu sebagai masyarakat yang berbudaya marilah kita menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan kondisi atau kebutuhan untuk bidang apa kita menggunakan ragam bahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 1998. Tata bahasa baku Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Rohman , Taufik.dkk.2006. Antropologi 1. Jakarta: Yudhistira.

Comments (1)

Hello world!

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya 🙂

Comments (1)

munajatul hubb

hadzal lail ana binnafsiy..

laysat wahidah

turofiqony..

kal layal almunasib..

yaa robb irsal alayya habibatullati khoirul qolb ..

allatiy tuhibbuniyy.. madzal maujud..

hhha

Leave a Comment